Perang Kognitif: Eskalasi Digital, Demonstrasi, dan Demokrasi Indonesia 2025
Deskripsi Singkat
Tahun 2025 memperlihatkan perubahan besar dalam wajah demokrasi Indonesia.
Tagar viral, video pendek, dan banjir informasi bergerak lebih cepat daripada klarifikasi. Demonstrasi kini juga berlangsung di media sosial dan ruang persepsi publik. Di tengah situasi itu, muncul pertanyaan penting: apakah masyarakat sedang menghadapi gejolak demokrasi biasa, atau bentuk baru konflik yang disebut perang kognitif?
Buku ini membedah bagaimana narasi, emosi publik, dan kepercayaan sosial dipengaruhi di era algoritma. Framing media, buzzer, astroturfing, hoaks, hingga post-truth dibahas secara kritis dan berimbang.
Buku ini tidak menyalahkan rakyat atau kritik publik. Sebaliknya, buku ini mengajak pembaca memahami pentingnya berpikir kritis, literasi digital, dan ketahanan kognitif agar demokrasi Indonesia tetap sehat di tengah gempuran disinformasi. PERANG KOGNITIF adalah refleksi tentang perebutan realitas di era digital—ketika perang terbesar tidak lagi memperebutkan wilayah, tetapi memperebutkan pikiran manusia.
Rp139.000
Deskripsi Buku
Pandemi Covid-19 yang merundung dunia belum lama ini memaksa kita untuk sadar bahwa tidak selamanya ancaman guncangan dan bencana dapat diprediksi. Masih banyak risiko tidak terduga yang dapat mendisrupsi aktivitas perkotaan, baik berupa perubahan iklim, wabah penyakit, perang ataupun resesi ekonomi. Oleh karena itu, kota dan masyarakatnya harus dibuat tangguh (resilient) sehingga bilamana bencana datang, kerugian dapat diminimalkan.
Selepas pandemi, kota sudah sepatutnya tidak lagi dipandang sama seperti dahulu. Beragam ancaman dan ketidakpastian perlu jadi pertimbangan besar dalam merancang ketahanan kota dan masyarakatnya. Berbicara kota di era pascakorona tentu tidak akan lepas dari bagaimana kota secara historis memiliki dampak yang lebih besar dan luas apabila terkena wabah penyakit. Tidak hanya itu, kota juga menjadi titik awal kebangkitan ketika pandemi sudah mereda dan warga mulai perlahan-lahan menata hidupnya kembali. Pandemi Covid-19 ini mengajarkan banyak hal, terutama bagaimana sebaiknya kota harus direncanakan, dirancang, dibangun, serta dikelola dengan lebih baik, lebih sehat, lebih tangguh, dan karena itu lebih berkelanjutan. Namun, apakah hal tersebut sudah terjadi? Apakah kota-kota sudah menjadi lebih baik di era pascapandemi? Apakah kota-kota kita mampu mengambil pelajaran berharga dari dua tahun pandemi yang meluluhlantakkan sektor-sektor vital perkotaan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut yang kemudian menjadi landasan utama penulis dalam mengembangkan buku Kota Tangguh Pasca Korona: Urgensi Ketangguhan Kota di Era Ketidakpastian.
Walaupun berangkat dari peristiwa pandemi Covid-19, buku ini tidak dimaksudkan untuk melulu melihat ke belakang. Buku ini mengajak kita semua untuk mempelajari apa yang telah terjadi, agar di masa depan kita dan kota menjadi lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan
Spesifikasi Buku
Additional information
| Penulis | Agus Bhakti |
|---|---|
| Dimensi | 14 x 21 cm |
| ISBN | None |

